728x90 AdSpace

Latest News
Saturday, May 26, 2018

Menteri Pertanian RI Nilai Petani Indonesia Malas

 
Jakarta-Berita Independent

Pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, yang menyatakan bahwa, Petani di Indonesia malas dibanding Petani  di negara lain yang hanya melihat matahari 6 jam dan menanam hanya 6 bulan. Penilaian itu menurut Amran Sulaiman berdasarkan hasil dari pembenahan pada alokasi anggaran. Amran mengklaim, saat ini 85% anggaran Kementerian Pertanian (Kementan) dialokasikan bagi kepentingan Petani. 

"Empat  tahun lalu hanya 35% anggatan Kementan yang dialokasikan untuk Petani, sisanya 65% untuk perjalanan dinas, cat kantor, dan lain-lain. Dan di 2014, dari total anggaraan untuk produksi Petani  hanya 35%. Selebihnya itu biaya seminar, perbaikan kantor, perjalanan dinas, kami cabut. Beli mobil, beli motor moratorium, cat kantor kami moratorium, biaya perjalanan dinas kami cabut. Hasilnya, dulunya 35% untuk Petani, sekarang 85% untuk Petani," ujar Amran dalam laporannya beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut Amran mengatakan, pembelian untuk perlengkapan pertanian sebelumnya dilakukan pada pertengahan musim hujan.
 
"Dulu semua tender, pestisida tender, anggaran turun padahal sudah pertengahan musim hujan. Kami menghadap Presiden, ada regulasi yang harus dicabut. Kami sampaikan, tikus tidak pernah mengatakan tunggu dulu pemerintah lagi tender. Baru satu regulasi kami ubah, kami yakin bisa angkat produksi," ujarnya. 

Demi menggenjot swasembada pangan dan meningkatkan investasi, Amran juga mengaku sudah memangkas 241 regulasi. "Dampaknya, ekspor kita meningkat, investasi meningkat," ungkap Amran.

Alasan malas ini paling tidak bisa menjadi rasional mengingat bahwa tingkat kesuburan lahan pertanian di Indonesia mengakibatkan keseriusan Petani dalam meningkatkan hasil cukuplah berbeda dengan luar negeri. 
 
Tapi di sisi lain juga harus dilihat pula sebenarnya bukan persoalan malas atau tidak malas tapi pertanian di Indonesia tidak mengikuti perkembangan zaman. Sehingga pola pertanian di Indonesia kurang menarik karena teknologi yang digunakan cukup ketinggalan.   

Menurut Amran, dengan keterbatasan  pendidikan dan minimnya  peralatan modern, juga memicu malasnya petani Indonesia. Untuk itu, diperlukan modal yang cukup besar mengingat lahan yang cukupo luas dan padat karya.
 
"Pemerintah tidak mendorong pola peningkatan untuk mendorong pertanian menjadi lebih baik volume produksinya namun lebih menjadikan Petani sebagai obyek demi mengurangi angka kemiskinan  sehingga target pengentasan kemiskinan yang diterapkan pemerintah tercapai dengan jargon pemertaan pembangunan."

Ketua Umum Petani, Satrio Damardjati menanggapi hal ini mengatakan, "Dengan adanya peningkatan harga BBM, produksi pertanian semakin terbebani. Sehingga program pemberdayaan Petani sering mengalami kesulitan. Terlebih Petani terbiasa disuapi daripada diberi motivasi kebanggaan dari pemerintah dalam  meningkatkan kemakmuran karena hasil dari pertanian."
 
Hal yang sama juga dikemukakan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PETANI Jawa Tengah (Jateng) Dumadi Tri Restiyanto terkait pernyataan menteri Amnran. 
 
Menurut Dumadi, kemalasan yang dimaksud Mentan Andi Amran Sulaiman harus diterjemahkan dan dijabarkan secara riil dan mencafri solusi terbaiknya.

"Seperti yang pernah dikatakan oleh Ketua Umum PETANI Satrio Damardjati dalam kunjungan Ramadhan Petani  ke basis-basis produksi Petani bahwa, bagaimana Mentan menilai bahwa Petani malas? dan apa penyebab malasnya Petani Indonesia. Sebab, Petani memiliki dua karakter motivasi yaitu transaksional motivation dan self motivation," tutur Dumadi.

Lebih lanjut Dumadi menegaskan, Petani dalam peningkatan kemakmuran bukan persoalan angka-angka anggaran pemerintah, "Karena kebutuhan Petani bukan kuantitatif saja tapi juga kualitatif.
Pergeseran nila-nilai gotong royong menjadi sifat individualistis dan kapitalisme liberal juga perlu dipertimbangkan, belum di dukung wilayah orientasi Petani,' tegasnya.

Seperti diketahui, Pertanian di Indonesia memiliki tipografi dan tipologi yang berbeda di luar Jawa dan di Jawa. Daerah lembah atau dataran tinggi, daerah perkotaan dan pedesaan. Wilayah Implementasi di lapangan baik lahan intensif atau ekstensif. Jadi  tidak bisa diratakan keluasan lahan. Sehingga Petani tidak mampu menerjemahkan apalagi melaksanakan program Mentan.
 
"Dan Mentan harus merevisi program, pernyataan dan beberapa hal yang telah disampaikan agar tidak terkesan sporadis namun  tetap berkelanjutan," tegas Ketum Petani mengakhiri pernyataannya.

 
 (ist)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Menteri Pertanian RI Nilai Petani Indonesia Malas Rating: 5 Reviewed By: Berita Independent