Latest News
Kamis, 22 Maret 2018

Pedagang Pasar Citereup Bogor Merasa Dirugikan PT. Javana Artha Buana



                                                                                                                          Poto: ist

Citereup-Berita Independent

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah yang dirasakan oleh para pedagang di Pasar Citereup prihal kondisi  mereka saat ini yang tengah berhadapan dengan tuntutan pembayaran sewa kios yang kembali dibebani oleh pengelola pasar Citereup Kabupaten Bogor, PT. Javana Artha Buana sementara pemasukan penjualan terkadang sepi.

"Kami sangat keberatan dan merasa sangat terintimidasi dengan adanya surat edaran bernomor 000.49/PP7/JAB/018 perihal penutupan kios kami yang tandatangannya tercantum tanggal 8 Maret 2018 mengatasnamakan PT. Javana Artha Buana. Kios kami akan disegel apabila tidak segera membayar perpanjangan kontrak untuk tujuh tahun berikutnya. Sedangkan kami sebagai pemilik kios masih memiliki masa kontrak penguasaan HGB dan HGU hingga tahun 2025 mendatang," tutur Jamal salah seorang penyewa kios pasar Citereup Bogor kepada Berita Independent.com, kamis (22/03).

Merasa dirugikan, para penyewa kios pasar Citereup pun akhirnya mengkonfirmasikan surat edaran tersebut. Namun sayangnya pihak pengelola malah menjelaskan bahwa  permasalahan itu sudah menyangkut masalah hukum. "Kami jadi bingung. Dulu kami membeli dari PT. Javana Artha Buana. Tapi kenapa sekarang malah mereka yang mempermasalahkan, bahkan sudah menagih sebelum waktu sewa berakhir," tambah Jamal yang juga diiringi kalimat setuju dari sebagian pedagang yang hadir.

Sayangnya, saat dikonfirmasi beritaindependent.com   melalui ponsel seluler, Direktur PT Javana Artha Buana, Roni tidak memberikan jawaban.

Untuk diketahui, jumlah kios di Pasar Citereup berjumlah 877 kios. Di mana kios di bangun oleh PT Javana Artha Buana dan dijual ke pedagang dengan sistem kredit tanpa bunga.


Sebagai acuan, Berita Independent juga memberikan masukan perihal Hukum Perjanjian Sewa Menyewa dalam Kasus Perdata, yang kami petik dari berbagai sumber.

  • Hukum Sewa Menyewa Properti
Hukum sewa menyewa diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum (KUH) perdata pasal 1548. Di dalamnya memuat bahwa sewa menyewa adalah perjanjian antara pihak pertama yang mengikat diri dengan memberikan kenikmatan suatu barang ke pihak lain, dalam kurun waktu tertentu. Termasuk perjanjian terkait pembayaran dengan harga yang telah disepakati bersama.
Selain itu, hukum sewa menyewa juga tertuang dalam PP (Peraturan Pemerintah) No. 44 Tahun 1994. Isinya berupa jaminan hukum bagi pemilik properti dan penyewa, asal terdapat perjanjian tertulis yang sah.
Perjanjian tertulis tersebut berisi tiga klausul penting, yakni hak dan kewajiban pemilik dan penyewa, jangka waktu sewa, beserta harga sewa properti.
  • Berakhirnya Perjanjian Sewa Menyewa
Menurut KUH Perdata pasal 1381, sewa menyewa bisa berakhir karena dua hal. Pertama masa sewa berakhir dan kedua terpenuhinya syarat tertentu sesuai perjanjian. Masa sewa tersebut sesuai kesepakatan dan isi dalam surat perjanjian. Selama tidak dilakukan perpanjangan, masa sewa akan berakhir sesuai kesepakatan awal dan dalam perlindungan hukum Indonesia.
Jangka waktu sewa tersebut tetap berlaku, meski pemilik maupun penyewa meninggal dunia. Seluruh hak dan kewajiban bisa diteruskan oleh ahli waris dari properti sewa menyewa.
Perjanjian sewa-menyewa ini juga tidak bisa berakhir begitu saja, bila properti yang disewakan dijual oleh pemilik. Pembeli properti atau pemilik baru harus menunggu, hingga masa waktu sewa menyewa habis. Kecuali, perihal penualan properti ini telah ditentukan dalam perjanjian tertulis di awal.
  • Hukum Mengeluarkan Penyewa Sebelum Waktunya
Secara hukum, pihak-pihak yang terlibat dalam sewa menyewa tidak bisa mengakhiri perjanjian begitu saja. Jikapun harus berakhir, perkaranya sesuai dengan PP Nomor 44 tahun 1994 pasal 11. Dijelaskan bahwa hukum sewa menyewa dapat berakhir bila pihak yang terlibat tidak menaati hak dan kewajiban yang telah disepakati.
Jika terjadi pelanggaran hak dan kewajiban dalam sewa menyewa, maka akan ada dua konsekuensi di antaranya:
- Bila penyewa yang dirugikan, maka pemilik wajib membayar ganti rugi dengan mengembalika   n uang sewa. Misalnya pemilik mendadak dan bersikeras menjual properti dan mengeluarkan si penyewa.
- Jika pemilik properti yang dirugikan, maka penyewa wajib mengembalikan apa yang disewa sesuai dengan kondisi semula. Misalnya penyewa merusak properti. Penyewa juga tidak bisa meminta kembali uang sewa yang sudah diberikan.


(dedi)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Pedagang Pasar Citereup Bogor Merasa Dirugikan PT. Javana Artha Buana Rating: 5 Reviewed By: Berita Independent