Latest News
Rabu, 14 Desember 2016

Kereen! Ridwan Kamil Minta Pengusaha Tak Paksakan Karyawan Muslim Pakai Atribut Sinterklas

BeritaIndependent.Com | Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil meminta pemilik toko atau tempat usaha untuk tidak mengharuskan karyawan yang beragama muslim untuk memakai atribut sinterklas.

Pernyataan itu disampaikan Kang Emil melalui akun Facebook-nya, yang di tulis kemarin. Tak cuma di Facebook, Emil juga menulis hal serupa di akun Twitter miliknya.

Berikut pernyataan lengkap yang disampaikan Emil di akun Facebook-nya:
"Untuk menghindari salah paham, dan cukup banyaknya komplain dari karyawan-karyawan yang merasa terpaksa, Pemkot Bandung sudah berkirim surat kepada pemilik usaha/retail untuk tidak meminta karyawannya yang muslim mengenakan atribut sinterklas di penghujung tahun ini di luar keikhlasannya.

Setiap keputusan selalu ada pro dan kontra. Namun hal ini sudah mempertimbangkan kondisi sosio kultural yang ada. Semoga hal ini bisa dipahami dengan baik sebelum salah paham membesar tidak pada tempatnya.

Damai selalu untuk kota Bandung tercinta ini. Mohon maaf sebelumnya.
Hatur Nuhun."
Postingan dari Emil, mendapat beragam tanggapan. Hingga pukul 19.30 WIB, sudah dikomentari oleh sekitar 23 ribu orang. Postingan tersebut juga dibagikan lagi oleh 6.300 orang. (R/dea)
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Item Reviewed: Kereen! Ridwan Kamil Minta Pengusaha Tak Paksakan Karyawan Muslim Pakai Atribut Sinterklas Rating: 5 Reviewed By: Berita Independent