Posisi Ahok Kian Terjepit, Soni: Ibaratnya Sama dengan Membunuh Orang yang Sudah Mati!


BeritaIndependent.Com | Plt Gubernur DKI Soni Sumarsono menyarankan agar Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok fokus saja dengan  persidangan yang tengah dijalaninya saat ini.

"Jadi ga usah macem-macem ngurusin yang lain, urusin saja sidang," kata Soni Sumarsono di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (5/1/2017).

Kepada wartawan Soni  mengatakan Ahok akan kembali dinonaktifkan usai cuti dan saat aktif kembali menjadi Gubernur DKI.

"Usai cuti, Ahok harus diaktifkan sebagai Gubernur DKI. Namun pengaktifan jabatan DKI 1 itu akan segera disusul dengan penonaktifan," terangnya.

Prosesnya memang agak berbelit. "Karena proses ini kan, makanya pak Mendagri bilang prosesnya setelah cuti dia aktif jadi nonaktif kembali. Jadi jangan menonaktifkan orang yang nonaktif gitu loh maksudnya," kata Soni.

Posisi Ahok saat ini kian terjepit pasca diterimanya surat dari PN Jakarta Utara soal status terdakwa bagi Ahok.

Menurut Soni, Pemprov DKI hanya menerima informasi dan menjalankan sesuai keputusan. "Soal pencabutan itu ya urusan Presiden nanti melalui Kemendagri prosesnya," imbuhnya.

Lalu status Ahok sekarang, bagaimana? Nonaktif! Jawab Soni.

"Kalau pemberhentian sementara apa? Menonaktifkan. Sekarang bagaimana cara menonaktifkan orang yang nonaktif? Ibaratnya, sama dengan membunuh orang yang sudah mati," canda Soni.

Berdasarkan data di Balai Kota, masa cuti kampanye Ahok akan selesai pada 11 Februari mendatang. Namun karena saat ini Ahok sudah didakwa melakukan penodaan agama dan masih akan menjalani rangkaian sidang, maka posisinya menimbulkan dilema. (R-007)


0 Response to "Posisi Ahok Kian Terjepit, Soni: Ibaratnya Sama dengan Membunuh Orang yang Sudah Mati!"

Post a Comment

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.