728x90 AdSpace

Latest News
Monday, December 19, 2016

Bertepatan Hari Bela Negara, BI Terbitkan 11 Desain Baru Rupiah

BeritaIndependent.Com | Gubernur BI, Agus Martowardojo hari ini resmi meluncurkan 11 desain baru rupiah yang terdiri dari 7 pecahan uang kertas dan 4 pecahan uang logam.

Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa untuk uang Rupiah kertas yang diterbitkan terdiri dari nominal Rp 100.000, Rp 50.000, Rp 20.000, Rp 10.000, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000. Sedangkan untuk uang rupiah logam terdiri atas pecahan Rp 1.000, Rp 500, Rp 200, dan Rp 100.

Yang menarik, pada desain uang baru ini sejalan dengan rencana BI menerbitkan uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hampir semua wajah pahlawan di uang tunai berganti, kecuali pecahan Rp 100.000.

Pada uang pecahan Rp 100.000 misalnya, tetap menampilkan wajah dua proklamator RI, yaitu Presiden dan Wakil Presiden pertama RI, Soekarno dan Mohammad Hatta.

“Rupiah adalah simbol kedaulatan negara yang wajib dihormati dan dihargai sesuai dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011. Rupiah sebagai alat pembayaran yang sah dan wajib digunakan di seuruh Indonesia,” katanya, di Jakarta, Senin (19/12/2016).

Bertepatan dengan Hari Bela Negara Indonesia, BI menerbitkan 11 desain baru rupiah yang terdiri dari 7 pecahan rupiah kertas dan 4 pecahan rupiah logam. Setelah diterbitkannya rupiah baru, maka uang rupiah yang sudah beredar di masyarakat masih berlaku dan masih bisa digunakan sebagai alat transaksi yang sah sampai BI menarik peredaran rupiah lama.

“Uang rupiah kertas dan logam yang telah dikeluarkan masih berlaku sepanjang belum dicabut dan ditarik peredaran oleh BI,” kata Agus.

Penggunaan gambar pahlawan pada rupiah baru juga sebelumnya sudah disetujui oleh Presiden Joko Widodo. Gubenrur BI, Agus Martowardojo mengucapkan terima kasih atas persetujuan itu.(R)

 Berikut desain pecahan baru lainnya:






  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Bertepatan Hari Bela Negara, BI Terbitkan 11 Desain Baru Rupiah Rating: 5 Reviewed By: Berita Independent