Booking.com
Breaking News
recent

Camat Pulau Pari Ancam Kerahkan Satpol PP Bongkar Mushola

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pantai Pasir Perawan merupakan iconnya wisata di Pulau Pari yang cukup terkenal.

Kebutuhan tempat shalat bagi orang muslim di Pantai Pasir Perawan sangat dibutuhkan, menantikan uluran tangan dari pemerintah sepertinya tidak mungkin mengingat sengketa lahan antara warga dan PT. Sedangkan PT mengklaim telah memiliki lahan di pari 90%, menurut orang PT, yaitu Bapak Endang Sopian Purn Brigjen.

Dan dari hasil penarikan uang masuk para tamu yang ke Pantai Perawan terkumpulah dana untuk pembangungan mushola.

Memang Bupati Budi Utomo pernah berargumen jika penarikan uang di pantai pasir perawan adalah pungli/ilegal. Pengurus pantai ingin membuktikan jika penarikan uang masuk tersebut adalah untuk kepentingan para pengunjung dan fasilitas pantai juga. Dan bukan untuk memperkaya pengurus pantai atau pun golongan apalagi seseorang.

Pembuatan musholah pun dilakukan dengan sytem panggung, dengan luas bangunan 4X4 dan ditambah tempat Imam 2X1. Dengan berbahan kayu kelapa dan bilik bambu, namun dibuat sedemikian rupa supaya terlihat lebih indah dan juga nyaman. Dengan lantai terbuat dari kayu dan atap dari bahan asbes.

Pada tanggal 23 Agustus 2016, seketaris lurah pulau pari datang meninjau musholah yang sedang dalam tahap pembangunan.

Pada tanggal 1 September 2016, kemudian datang Kasatgas Pamong Praja Pak Amri memerintahkan untuk membongkar atau menyetop pembangunan, dengan alasan harus buat izin terlebih dahulu. Setelah beradu argumen antara pengurus pantai dan Kasatgas Pamong Praja Pak Amri dan akhirnya Kasatgas dan bawahannya pulang, dengan hati kesal dan dongkol.

Selang tidak berapa lama, tanggal 5 September 2016. Kasatgas Pamong Praja Kecamatan Pulau Seribu Selatan Pak Amri beserta anggota dan jajarannya, Pegawai Prasarana Umum (PPSU) Kelurahan Pulau Pari, Lurah Pulau Pari dan Camat Kepulauan Seribu Selatan datang ke Pulau Pari dengan tujuan akan membongkar Mushola yang sedang di bangun di pantai Pasir Perawan yang merupakan pantai publik.

Warga yang tau info tersebut langsung berkumpul di lokasi mushola yang sedang dalam pembangunan. Blokade warga yang menghalangi satuan polisi pamong praja dan PPSU masuk yang hasilnya Lurah dan Camat mengajak untuk bermediasi dengan warga dan pengurus pantai.

Kasatgas Pamong Praja, Lurah dan camat tetap ingin mushola di bongkar dengan alasan tidak ada izin dari pemerintah dan pemilik tanah. Dan warga pun menanyakan tanah tersebut milik siapa, dan lurah dan camat pun tidak bisa menjawab.

Mediasi berlanjut, lurah dan camat akan mencari tempat penggantian lokasi mushola.

Tetapi harus izin terlebih dahulu kepada bupati, dan bupati pun setuju atas persetujuan juga dengan PT. Namun tempat yang diberikan bukan merupakan tempat yang strategis untuk suatu mushola, posisinya sebelah timur pantai perawan atau ujung dari pantai perawan yang aksesnya cukup jauh. Sedangkan tujuan mushola dibuat di pantai Pasir Perawan untuk mempermudah akses ibadah umat muslim.

Mentah kembali, bermediasi kembali. Kasat PP Pak Amri dan jajarannya, lurah dan camat beserta jajarannya tetap menginginkan bangunan mushola di bongkar.

Mediasi menemukan jalan buntu. Dan pada akhirnya warga (Samiun) berkata “jika memang itu tanah ada yang punya, saya mau tahu siapa yang punya, biar saya yang beli. Untuk ukuran luas mushola”, Ujar Pak Samiun.

Pak Lurah dan Pak Camat terdiam karna malu. Dan akhirnya Pak Lurah dan Pak Camat memberikan waktu 3 hari untuk membongkar atau di pindahkan dari lokasi yang sekarang. Jika tidak maka akan dikerahkan satuan polisi pamong praja sekabupaten untuk membongkar mushola dengan laus 4 x 4 + 2 x 1 itu. Dengan meninggalkan lokasi mushola. Wassalam(*)

Pres Rilis.
Warga Pulau Pari dan FP3
Tanggal 5 September 2016

Khatur / Sulaiman (083873258300)
Edi Mulyono (081808715117)
Boby / Mustagfirin (083876751361)
Wawan, Samiun

No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.