Booking.com
Breaking News
recent

Soal Toleransi, Muhammadiyah: Presiden Jangan Mendiskreditkan Umat Islam

BeritaIndependent.Com | Tokoh Pemuda Muhammadiyah Dr. Saleh P. Daulay, M.Ag. M.Hum, MA perlu meluruskan pernyataan  Presiden Joko Widodo saat membuka acara World Islamic Economic Forum (WIEF) 2016 di Jakarta, pada Selasa kemarin (2/8).

Dalam sambutannya itu, Jokowi menilai salah satu tantangan terbesar negara muslim adalah soal toleransi. Dia menyebut, tantangan ini yang paling sulit dihadapi komunitas muslim.  Oleh sebagian masyarakat, pernyataan  Presiden Jokowi ini seakan-akan mendiskreditkan umat muslim khususnya di Indonesia.

Menurut Saleh, persoalan toleransi adalah persoalan semua umat beragama. Toleransi tidak hanya dibutuhkan di Indonesia, tetapi juga negara-negara lain dunia. Ada banyak fakta bahwa umat Islam juga diperlakukan tidak adil di negara-negara dimana muslimnya minoritas.

"Munculnya islamophobia adalah indikasi dimana umat Islam mendapatkan ketidakadilan. Sentimen negatif terhadap Islam muncul dimana-mana. Sentimen negatif itu sendiri adalah manifestasi dari intoleransi," tegas Salah seperti disitat RMOL, Rabu (3/8).

Saleh mengatakan toleransi harus ditanamkan kepada semua pemeluk agama. "Toleransi adalah keharusan untuk saling memahami. Toleransi bukan kewajiban satu kelompok umat beragama tertentu, tapi kewajiban semua orang," tegasnya.

Mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ini menyatakan bahwa tantangan terbesar umat Islam bukanlah toleransi, tantangan terbesar adalah kemiskinan dan kebodohan.

"Kedua tantangan besar ini masih terus diwariskan pada setiap periodisasi pemerintahan. Bahkan, banyak problematika sosial yang terjadi di masyarakat berawal dari persoalan kemiskinan dan kebodohan," sesalnya.

"Jika ada satu dua kasus intoleransi, mungkin juga itu karena faktor kesenjangan. Selain itu, bisa jadi karena tingkat pendidikan yang masih rendah," lanjut Saleh.

Pendapat yang sama juga dikemukan oleh  Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq. Dia menilai pernyataan Presiden tersebut bersamaan dengan meletupnya kerusuhan di Tanjung Balai, yang menyebabkan terjadinya pengrusakan dan pembakaran salah satu tempat ibadah. Sehingga isu toleransi terus dikembangkan.

"Terdapat masalah dalam konteks hubungan masyarakat Indonesia, dan masalah itu selalu berkembang, dan intensitas masalahnya semakin tinggi," kata Fajar.

Fajar menilai kasus intoleransi perlu mendapat perhatian serius, kejadian seperti di Tanjung Balai merupakan alarm bagi kita semua.

"Orang dengan mudah melakukan kekerasan karena adanya hasutan. Terjadi hasutan melatar belakangi kesenjangan ekonomi, agama, maupun sosial, sehingga sentimen sektarian semakin meningkat," tambahnya.

"Sesama masyarakat harus mampu menjaga toleransi, agar hal-hal serupa tidak dapat terjadi kembali," tegas Fajar.

"Muhammadiyah harus turut melibatkan diri dalam hal mengkampanyekan isu-isu toleransi di masyarakat," imbuhnya. (R)



No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.