Booking.com
Breaking News
recent

Polisi Mabuk dan Teler, Psikolog: Polri Perlu Revolusi Mental

BeritaIndependent.Com | Saat ini perlu mempertanyakan kembali seberapa besar setiap anggota kepolisian menghayati dan menjalankan slogan mereka; Melindungi, Mengayomi, dan Melayani Masyarakat. Alih-alih menjadi pelindung dan pelayan masyarakat, Polisi justru kerap menunjukkan kontra perilaku, malah sering berbenturan dengan adab yang berlaku di masyarakat.

Demikian pendapat ini disampaikan psikolog Lukman Sutrisno menyikapi ulah prajurit Bhayangkara yang tak pantas ditiru. Bukannya menjadi pengayom, Wakapolsek Kemayoran bernama AKP Jamal Alkatiri malah mabuk berat.

"Peristiwa itu sangat memalukan institusi Polri. Mengayomi nggak perlu pakai mabuk dan teler," katanya kepada Berita Independent, hari ini.

Melihat kejadian itu, imbuh Lukman, maka  slogan "Melindungi, Mengayomi, dan Melayani Masyarakat" belum dihayati benar oleh setiap anggota Polri. Disinilah pentingnya Polri untuk melakukan revolusi mental. 

Slogan "melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat" yang banyak ditempel di mobil-mobil LANTAS polisi seperti tidak ada gunakanya kalau perilaku anggota Polri seperti itu. Wajar, jika kemudian muncul banyak pertanyaan dan pergunjingan mengenai keberadaan polisi di tengah masyarakat.

"Peristiwa pejabat polri mabuk dan teler diemper toko sudah memberi jawaban terulangnya hal-hal negatif yang selalu terjadi pada anggota Polri," kata Lukman.

Seperti diberitakan, Wakapolsek Kemayoran bernama AKP Jamal Alkatiri, ditemukan dalam keadaan mabuk berat.

Kejadian itu berawal ketika Propam Polres Jakarta Timur mendapat laporan dari warga adanya seorang laki-laki dalam keadaan mabuk mengaku sebagai anggota Polri sembari mengacung-acungkan senjata jenis revolver. Mendapat informasi tersebut, anggota Polres Jakarta Timur langsung menjemputnya dan menggelandangnya ke kantor polisi.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi) Edi Hasibuan meminta Polri menindak tegas anggotanya tersebut. Edi menilai, aksi AKP Jamal menurunkan citra buruk korps bayangkara di tengah terpa isu testimoni Fredi Budiman.

“Itu adalah perbuatan yang memalukan. Kita minta sosok seperti ini diberikan tindakan tegas. Masukkan yang bersangkutan ke dalam sel,” kata Edi.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengungkapkan Jamal menodongkan senjata karena kaget dibangunin oleh pemilik toko. Awi mengatakan, Jamal mengacungkan senjata karena kaget dibangunkan oleh pemilik toko usai mabuk hingga tertidur pulas di depan sebuah toko aksesoris motor.

“Jadi dia ini kan mabuk mungkin dari semalamnya, terus tidur di depan toko itu. Nah paginya sekitar pukul 09.00 WIB, pemilik toko mau buka tokonya lalu dia bangunin yang bersangkutan. Merasa kaget, langsung nodong gitu,” kata Awi kepada wartawan, Senin (8/8).

Menurut Awi, kasusnya kini dilimpahkan ke propam Polres Metro Jakarta Pusat. Namun akibat ulahnya, perwira polisi ini bisa dikenakan kurungan penjara 21 hari.

“Ancaman terberat dari yang dilakukan yang bersangkutan ini sanksi disiplin, dengan hukuman terberat itu kurungan penjara 21 hari. Jadi nanti yang bersangkutan bisa saja ditahan,” kata Awi.

(Lexy Utar)

No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.
loading...
loading...