Booking.com
Breaking News
recent

Diam-diam Banyak Turis Malaysia Main di Saritem

BeritaIndependent.Com | Pasca lebaran banyak pendatang baru di Saritem. Bursa sex di Bandung ini kembali bergeliat. Meski pemerintah kota sudah beberapa kali menutup, fakta dilapangan bisnis lendir itu tak pernah surut.

"Malah sekarang lebih berani dibanding dulu. Sebab banyak calo mucikari yang "go publik" hotel to hotel guna menjajakan para PSK disini," ujar Dadang, hari ini kepada Berita Independent. (11/8)

Dia menyatakan sekarang ini banyak "pendatang baru" dari Cianjur, Sukabumi, Garut dan Indramayu. Jadi jangan heran kalau rumah-rumah di daerah padat penduduk itu mulai ramai.

"Mereka tertarik kesini, karena sekarang banyak turis Malaysia yang suka main disini," jelasnya Dadang seorang "penghubung" pelanggan dengan para pekerja seks komersial di sana.

Apa benar turis Malaysia suka main disini?

"Benar Om, saya sendiri sudah bawa 18 orang turis Malaysia kesini selama 4 hari terakhir. Bagi yang kurang suka tempat yang sumpek, mereka biasanya minta saya untuk antar ke Hotel Mutiara. Malah ada bos gede minta diantar juga di Homan," ujar Dadang meyakinkan.

Saat ini, banyak rumah di Saritem yang memampang belasan PSK yang siap dipesan dengan kisaran umur mulai dari 20-30 tahun. Diperkirakan ada belasan rumah yang menampung PSK di lokalisasi tersebut.

Sambil mengitari lokalisasi tersebut, calo yang mengantar Berita Independent itu terus memberikan informasi mengenai harga dan watak setiap PSK. Ia hafal betul dari nama hingga harga yang dipasang oleh setiap PSK.

"Sebagian di sini anak baru. Ada juga yang lama," ujarnya.

Menurut Dadang, tarif sekali kencan di Saritem sangat variatif. Mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu. Itu belum dengan harga menyewa ruangan untuk ekseskusi. "Untuk ruangannya bayar lagi. Paling murah Rp 50 ribu sampai yang paling mahal Rp 75 ribu," kata dia.

Pemerintah Kota Bandung sebenarnya sudah beberapa kali menutup lokalisasi Saritem.  Namun hanya beberapa bulan, Saritem semarak lagi. Kawasan ini diduga telah berdiri sejak masa kolonial Belanda dan berkembang pesat setelah banyak pengusaha yang membuat losmen di sekitaran lokalisasi yang berada di dalam gang tersebut.

Pada tahun 2007, Pemkot Bandung di bawah kepemimpinan Wali Kota Dada Rosada, secara resmi menutup lokalisasi tersebut. Pemerintah pada saat itu, telah membeli sejumlah lahan di Saritem, salah satunya dibuat untuk dijadikan pondok pesantren.

Namun, tak berlangsung lama lokalisasi tersebut kembali berdenyut. Ratusan pekerja seks komersial dan warga setempat kembali menggantungkan rezekinya pada Saritem.

Menanggapi masih berjalannya bisnis esek-esek di lokalisasi Saritem, Kepala Dinas Sosial Kota Bandung Aji Sugiat pernah mengatakan hal tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk pemerintah.

Ia mengatakan, Pemerintah Kota Bandung sudah menyerahkan sebagian PSK asal Saritem ke tempat penampungan sosial. Namun, ia belum bisa memastikan apakah eks PSK yang terjaring tersebut kembali ke Saritem atau tidak.

"Nanti akan kami lakukan pendataan lagi. Jadi, jangan sampai ada PSK yang sudah ditangkap kembali lagi," kata Aji kepada wartawan, saat itu.

(Ucok Pangaribuan)



No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.