Booking.com
Breaking News
recent

Ribuan Peziarah Padati Makam Syekh Albanjari


BeritaIndependent.Com | Syekh Muhammad Arsyad Albanjari atau kerap dikenal dengan sebutan Datuk Pelampayan merupakan seorang ulama terkenal dan kharismatik dari Kalimantan Selatan di masanya, ratusan tahun lalu.

Para keturunannya banyak pula yang menjadi ulama-ulama yang disegani yang tersebar di provinsi ini.

Semasa hidupnya, dia dikenal sebagai ulama Islam bermazhab Syafi’i yang mengarang kitab –kitab Fikih seperti Sabilal Muhtadin yang kemudian dijadikan kitab Fikih rujukan umat Islam di Asia Tenggara.

Dia juga pernah mengabdi sebagai mufti atau ketua para ulama di Kerajaan Banjar. Wafat pada 1812 silam, dia dimakamkan di sebuah kubah di Jalan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari, Desa Kelampayan Tengah, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Makamnya tak pernah sepi dari para peziarah. Tak terkecuali pada lebaran tahun ini, ribuan peziarah padati makam Syekh Albanjari

Di dekat makam tersebut, ada sebuah ruangan kecil bertulisan Perpustakaan, namun ternyata isinya tak hanya buku-buku karangan para ulama keturunannya, namun juga toko yang menjual berbagai cinderamata khas Kabupaten Banjar dan beberapa buah koleksi benda pribadi peninggalan sang ulama.

Tak banyak koleksinya, seperti sebuah peci atau kopiah, sehelai surban, sebuah tongkat kayu berukuran pendek dan sehelai jubah yang semuanya sudah sangat usang.

Ada lagi seperangkat peralatan menginang, sebilah asak atau alat bertani miliknya, sebuah kotak kayu berukiran, sebuah salinan mushaf Alquran tulisan tangan karyanya dan sebuah rihal kayu atau tempat meletakkan Alquran.

Koleksi yang paling menarik adalah jubah, surban dan peci yang diperkirakan usianya sudah sekitar 220 tahun.

“Ini pakaian beliau yang kerap digunakan saat berdakwah,” ujar Ketua Yayasan Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Albanjari, HM Djayadi Ahmad, Minggu

Jubah tersebut sejatinya berwarna putih, polos dan bahannya seperti katun.

Namun karena sudah sangat tua sehingga warnanya sudah berubah menjadi kuning dan coklat.

Jubah tersebut tampak sangat rapuh dan tipis sekali.

Saking rapuhnya, memegangnya pun harus sangat berhati-hati.

Bahkan pihaknya membungkusnya dengan plastik bening dan mengikatnya dengan plester.

“Mohon maaf, kalau ada pengunjung yang ingin melihat jubah ini, minta dibukakan tidak kami layani karena tidak bisa dibentangkan lagi saking rapuhnya. Dibuka sedikit saja bisa hancur kainnya,” urainya.

Surbannya juga tampak rapuh.

Surban tersebut berwarna kuning kunyit, bersulaman dengan benangnya yang berwarna-warni.

Saking tua dan rapuhnya, surban ini sudah tak jelas lagi yang mana bagian depan dan belakangnya.

Motif sulamannya pun sudah tak jelas lagi karena benang-benangnya sudah banyak yang terlepas dan lapuk.

Banyak lubang di beberapa bagiannya, berlubang seperti dimakan rayap atau karena sudah sangat usang.

Sedangkan peci atau kopiahnya juga tampak lapuk.

Di keterangan yang ditempel di lemari kaca tempat peci ini disimpan, nama peci ini adalah Kopiah Alfi.

Peci tersebut berbahan benang seperti wol, berwarna-warni dan dirajut.

Di salah satu sisinya ada yang sobek dan di bagian atasnya berlubang.

Di bagian lain dari tempat ini, juga ada koleksi dua buah kitab yang disebut Kitab Rajah.

Tulisan di kitab ini penuh dengan simbol yang tampak sangat asing bagi para manusia sekarang.

“Kitab ini asli bertulisan tangan Datuk Pelampayan. Bahasanya itu Bahasa Suryani,” jelasnya.

Biografi Syekh Al Banjari

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah seorang ulama besar fiqih bermazhab Syafi'i  dari Martapura, Kalimantan Selatan yang namanya dikenal luas di seantero nusantara pada akhir abad 18. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari lahir di Lok Gabang, Martapura 17 Maret 1710. Dia diyakini  adalah keturunan Alawiyyin melalui jalur Sultan Abdurrasyid Mindanao, Filipina.

Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Muhammad Arsyad bergaul dan bermain dengan teman-temannya.
Namun pada diri Muhammad Arsyad sudah terlihat kecerdasannya melebihi dari teman-temannya.

Begitu pula akhlak budi pekertinya yang halus dan sangat menyukai keindahan. Di antara kepandaiannya adalah seni melukis dan seni tulis. Sehingga siapa saja yang melihat hasil lukisannya akan kagum dan terpukau.

Pada saat Sultan Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, sultan melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun.

Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan.

Di istana, Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang.

Sultan sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Arsyad, karena sultan mengharapkan Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim.

Dia mendapat pendidikan penuh di Istana sehingga usia mencapai 30 tahun. Kemudian  dinikahkan dengan seorang perempuan bernama Tuan Bajut.

Ketika istrinya mengandung anak yang pertama, Muhammad Arsyad berkeinginan untuk menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Maka, setelah mendapat restu dari sultan berangkatlah Muhammad Arsyad ke Tanah Suci mewujudkan cita-citanya.

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru dia adalah Syekh Athaillah bin Ahmad al-Mishry, al-Faqih Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan al-Arif Billah Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.

Selain itu guru-guru Muhammad Arsyad yang lain seperti Syekh Ahmad bin Abdul Mun'im ad Damanhuri, Syekh Muhammad Murtadha bin Muhammad az Zabidi, Syekh Hasan bin Ahmad al Yamani, Syekh Salm bin Abdullah al Basri, Syekh Shiddiq bin Umar Khan, Syekh Abdullah bin Hijazi asy Syarqawy, Syekh Abdurrahman bin Abdul Aziz al Maghrabi, Syekh Abdurrahamn bin Sulaiman al Ahdal, Syekh Abdurrahman bin Abdul Mubin al Fathani, Syekh Abdul Gani bin Muhammad Hilal, Syekh Abis as Sandi, Syekh Abdul Wahab at Thantawy, Syekh Abdullah Mirghani, Syekh Muhammad bin Ahmad al Jauhari, dan Syekh Muhammad Zain bin Faqih Jalaludin Aceh.

Selama menuntut ilmu, Syekh Muhammad Arsyad menjalin persahabatan dengan sesama penuntut ilmu seperti Syekh Abdussamad al-Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri al-Jawi, dan Syekh Abdul Wahab Bugis sehingga mereka dikenal sebagai Empat Serangkai dari Tanah Jawi.

Lalu pulanglah Syekh Muhammad Arsyad ke kampung halamannya, Akan tetapi, Sultan Tahlilullah, seorang yang telah banyak membantunya telah wafat dan digantikan kemudian oleh Sultan Tahmidullah II bin Sultan Tamjidullah I, yaitu cucu Sultan Tahlilullah.

Sultan Tahmidullah yang pada ketika itu memerintah Kesultanan Banjar, sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan serta kemajuan agama Islam di kerajaannya.

Sultan Tahmidullah II mengangkatnya sebagai mufti, bahkan sultan pun termasuk salah seorang muridnya.
Syekh Muhammad Arsyad adalah pelopor pengajaran hukum Islam di Kalimantan Selatan.

Ulama-ulama yang dikemudian hari menduduki tempat-tempat penting di seluruh Kerajaan Banjar, banyak yang merupakan didikan dari suraunya di Desa Dalam Pagar.

Salah satu cerita mengenai karomah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang dikenal dengan nama Tuanta Salamaka atau Datuk Kalampayan ini terjadi saat dia berangkat ke Batavia untuk membetulkan arah kiblat.

Arsyad membetulkan arah kiblat di Masjid Jembatan Lima, Masjid Luar Batang dan Pekojan, hal ini menimbulkan kontroversi di kalangan pemuka mesyarakat dan pemimpin muslim saat itu.

Karenanya Gubernur Jenderal Belanda kala itu memanggil Arsyad, sekaligus untuk mempermalukannya di depan umum dengan salah satu pertanyaannya apakah isi kelapa yang sedang dipegang sang gubernur.

Syekh Arsyad menjawab isi kelapa itu air dan di dalam air itu ada ikan, lalu hadirin tertawa mendengar jawaban yang tidak masuk akal itu.

Akan tetapi, setelah kelapa itu dibelah, memancarlah air dan keluarlah ikan yang masih hidup dari dalamnya, hadirin yang tertawa berubah menjadi takjub dan kagum melihat karomah yang dimiliki Syekh Arsyad.


(Yayu Fathilal)
Sumber:
- islam-alfaqir
- wikipedia dan diolah dari berbagai sumber

No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.