Breaking News
recent

Jangan Sampai Masalah Agama Diserahkan Kepada Pasar

Para pendakwah  Islam Asia diminta untuk memperbaharui metode dakwahnya.

“Dunia semakin kompleks, tantangan pun semakin besar, bila tidak mengikuti kemajuan zaman, dakwah yang kita lakukan tidak akan berhasil,” ujar koordinator World Islamic Call Society (WICS) untuk Indonesia, Muhyiddin Junaidi.

Menurutnya, para pendakwah harus mulai melek teknologi agar cara-cara dakwah yang dilakukan tidak ketinggalan zaman.

“Kita tidak mungkin terus menerus terperangkap dengan cara dakwah yang primitif terus-menerus,” ujarnya.

Muhyiddin mengatakan, jaringan internet yang semakin luas dan berkembangnya dunia pertelevisian harus dimamfaatkan dengan baik.

“Kita perlu bikin televisi Islam agar dakwah tersampaikan lebih cepat dan efektif,” ujarnya.

Muhyiddin juga mengingatkan para pendakwah untuk mengkomunikasikan dakwahnya dengan tepat dan sopan.

“Kita harus persuasif dan tidak konfrontatif dalam berdakwah,” ungkapnya.

Pendakwah hendaknya mampu merepresentasikan Islam sebagai agama yang penuh dengan kedamaian, mengikuti kemajuan zaman, agama yang memulai peradaban dunia serta pembentuk masyarakat yang madani.

Dakwah tak hanya dilakukan di mesjid tapi yang paling penting adalah mengimplementasikannya di dunia nyata melalui kelakuan. Para pendakwah sebaiknya tidak memaksakan bahasanya kepada jamaahnya, tapi hendaknya berbahasa mengikuti para jamaahnya.

Selain itu Muhyiddin menganjurkan agar para pendakwah peka dengan permasalahan yang terjadi di masyarakat. “Bukan hanya soal aqidah yang disampaikan tapi juga memaknai berbagai permasalahan yang relevan dengan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya terdapat tiga tantangan besar yang dihadapi dunia dakwah Indonesia saat ini.

Pertama adalah masalah sekularisme. Menurutnya, paham sekularisme justru akan membuat Islam runtuh. Pemerintahan dan agama tidak bisa dipisahkan sema sekali. selain itu adalah masalah liberalisme. Muhyiddin mengingatkan agar jangan sampai masalah agama diserahkan kepada pasar.

“Bila tidak akan terjadi tren beragama dan relativitas kebenaran,” ujarnya. Terakhir adalah pluralisme. Agama yang paling benar adalah Islam, sedangkan agama lainnya tidak.

Tantangan yang tidak kalah pentingnya adalah memperkuat perekonomian rakyat. Hal ini penting untuk menyikapi masalah kristenisasi. “Gara-gara urusan perut, orang bisa dengan mudah menggadaikan agamanya,” ujar Muhyiddin.**

No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.