Breaking News
recent

Astagfirullah... Kota Wali Itu Sudah Menjadi Kota Maksiat

BeritaIndependent.Com | Tiga tahun tak pulang kampung, membuat seorang pemudik ini terkaget-kaget melihat perubahan yang terjadi di kota Demak. Pasalnya, kota yang dahulunya sangat islami itu kini telah mengarah menjadi kota maksiat.

"Sebagai warga Demak saya kecewa pembangunannya makin liberal. Karaoke dan tempat maksiat menjamur dimana-mana," kata Iswanto berkisah usai mudik hari ini.

Menurut Iswanto, branding Kabupaten Demak yang dikenal sebagai Kota Wali, kini terusik dengan adanya karaoke liar di Jalur Lingkar Kabupaten Demak. Oleh karena itu, banyak elemen yang khawatir akan terjadi pergeseran branding Demak Kota Wali menjadi Demak Kota Karaoke.

Hal yang sama pun pernah diungkap Umar Latif, Ketua Umum DPD II Gerakan Pemuda Nusantara (GPN) Cabang Demak, beberapa waktu lalu.

“Kami khawatir kalau ini menjadi branding yang dikenal oleh masyarakat di wilayah pantura. Contohkanlah Pati, dulu ketika awal kali banyak karaoke bertebaran, banyak animo masyarakat menilai bahwa Pati Kota Seribu Karaoke. Nah Demak, jangan sampai terjadi seperti itu,” ungkapnya.

Dijelaskan dia, kalau banyak sopir, juga orang dari wilayah Jawa Timur maupun daerah lain lewat Jalur Lingkar Demak, akan berbahaya jika melihat karaoke menjamur.

“Ini akan mengancam substansi dan ruh Demak itu sendiri. Sebab, kalau dibiarkan dan tidak ada tindakan tegas dan solutif, maka akan berbahaya. Padahal Demak ini tempatnya Sunan Kalijaga, ada Masjid Agung Demak yang penuh sejarah dan kisah perjuangan Islam, kan berbahaya kalau disebut Demak Kota Karaoke,” imbuhnya.

Ia berharap, secepatnya ada tindakan tegas dan solutif untuk menuntaskan polemik karaoke liar di Jalur Lingkar Demak yang saat ini sudah menjamur karaoke liar. Karoake liar di beberapa tempat di jalur lingkar Kabupaten Demak harus diselamatkan dan dibina. Sebab, hal itu akan menodai harkat dan martabat Demak sebagai Kota Wali.

“Kalau Demak banyak karaoke, hal itu secara moral akan menurunkan harkat Demak, ya pemimpinnya, ya orangnya,” ujar Umar Latif.

Umar mengatakan bahwa penyelamatan itu tidak hanya merazia dan membongkar, namun Pemerintah Kabupaten Demak melalui Satpol PP perlu mencari alternatif.

“Ya solusi jangka panjang mereka ya diberi pekerjaan, atau cukup ditutup saja, dan digantikan toko atau warung kopi biasa, itu sudah solusi,” terangnya.

Editor : Umi Khalsum
Sumber : Harian Demak

No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.