Booking.com
Breaking News
recent

12 Mayat Tumbal Mudik 2016, Netizen: Salam 2 Periode Masuk Liang Lahat


BeritaIndependent.Com | Suara publik atas insiden jatuhnya korban mudik 2016 perlu mendapat perhatian yang serius. Terlebih sudah menelan "tumbal" sebanyak 12 orang.

Sebelumnya, BNPB menyebut kemacetan jalur mudik di Brebes sejak H-3 telah memakan korban jiwa. Angka versi BNPB adalah 12 pemudik. Mereka meninggal di jalan atau dalam kendaraan yang ditumpangi untuk pulang ke kampung halaman.

"Dari 18 laporan yang disampaikan posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes, ada 18 kasus kematian di jalan. Sebanyak 12 di antaranya meninggal karena kelelahan akibat macet hingga jatuh pingsan dan muntah-muntah," ungkap Kepala Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, kemarin.

Sutopo juga mengatakan bahwa di antara korban meninggal, terdapat bayi perempuan berusia 1,4 tahun. Bayi bernama Azizah tersebut meninggal saat dilarikan ke Puskesmas Tanjung, Brebes. "Diduga penyebabnya terjebak macet di dalam mobil dengan AC menyala lebih dari enam jam," ujarnya.

Baca juga :  DPR Prihatin Tragedi Brexit, Komisi V Segera Bentuk Panja

Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit mengatakan, jatuhnya korban jiwa dalam kemacetan di Brebes tersebut merupakan hal yang patut ditanggapi serius. Menurut dia, kasus kematian di jalan akibat kelelahan karena terjebak macet merupakan kasus yang jarang terdengar.

"Tahun ini bukan hanya korban akibat kecelakaan yang menjadi isu, melainkan juga karena faktor kelelahan dan dehidrasi," tuturnya.

Danang melanjutkan, pemerintah tidak siap dan kurang sigap mengantipasi kemungkinan jatuhnya korban jiwa akibat hal tersebut. "Dalam penanganan pasca kecelakaan saja, pemerintah belum memiliki SOP yang cukup baik, apalagi untuk menangani korban akibat kelelahan," ujar dia.

Danang juga menyarankan, agar kasus kematian di perjalanan mudik akibat kelelahan tidak terulang, pemerintah harus mengoptimalkan fungsi posko-posko yang disiagakan di sepanjang jalur mudik. Bukan hanya itu. Warga setempat yang tinggal di sepanjang jalur mudik juga perlu diajak untuk berpartisipasi. Misalnya, membentuk pelopor penanganan kecelakaan.

"Harus disiapkan sarana untuk istirahat di sepanjang jalur mudik. Jika kebetulan di sana tidak ada posko atau rest area, rumah-rumah warga juga bisa dimanfaatkan untuk membantu pemudik beristirahat," imbuhnya.

Disinggung mengenai data posko mudik BPBD yang menyebut 12 orang meninggal sebagai dampak kemacetan, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan langsung menyanggahnya. ’’Masak kemacetan bisa mengakibatkan orang meninggal, kan nggak mungkin," ucapnya.

Menurut Jonan, meninggalnya pemudik di tengah kemacetan tidak terlepas dari kondisinya yang tidak fit. Sejak awal, dia juga meminta didirikan posko di rest area dan dekat pintu gerbang tol besar.

"Memang tantangannya di arus balik dari timur ke barat kalau lewat tol Cipali, rest area-nya kurang. Itu mesti ditambah. Saya kira akan diadakan," ungkapnya.

Sementara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turut angkat bicara perihal kabar mudik 2016. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Oscar Primadi menuturkan, peristiwa itu terjadi dalam kurun tiga hari.

Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab korban meninggal. Di antaranya, kelelahan dan kekurangan cairan. Apalagi, untuk kelompok rentan seperti anak-anak, orang tua, dan pemudik dengan penyakit kronis.

"Ditambah lagi kondisi kabin kendaraan yang relatif sempit serta tertutup dengan pemakaian AC terus-menerus. Ini bisa menurunkan oksigen dan naiknya CO2," ujar Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Achmad Yurianto.

Karena itu, Kemenkes mengimbau pemudik agar mengutamakan kesehatan dan keselamatan. Bila lelah, mengantuk, atau merasa kurang prima, pemudik wajib beristirahat atau memeriksakan diri. Kemenkes telah menyiagakan 3.448 sarana kesehatan dalam momentum mudik Lebaran. Perinciannya, 870 posko kesehatan, 2.000 puskesmas, 371 rumah sakit, dan 207 kantor kesehatan pelabuhan.

Pendapat berbeda disampaikan Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi) Ari Fahrial Syam yang mengatakan, kemacetan arus mudik tahun ini adalah yang terburuk dalam kurun lima tahun terakhir. "Contohnya, pembantu saya untuk sampai ke Cepu butuh waktu 36 jam. Luar biasa sekali," katanya di Jakarta kemarin.

Ari juga menyayangkan kabar meninggalnya sejumlah pemudik saat terjebak kemacetan seperti di daerah Brebes. Dia menuturkan, faktor utama kematian itu bisa jadi penyakit bawaan. Penyakit tersebut makin buruk karena seseorang mengalami kelelahan hebat selama terjebak macet. Selain kelelahan, banyak pemudik yang berpotensi mengalami dehidrasi serta stres berat. Semua itu memicu kondisi kesehatan memburuk.

"Pemerintah telah gagal dalam mengantisipasi kemacetan ini. Masyarakat jadi korbannya," katanya.

Ari lantas membagi tip untuk menjaga kesehatan di tengah kemacetan arus balik nanti. Di antaranya, membawa perbekalan air minum yang cukup. Air minum sedikitnya dikonsumsi 10 gelas setiap hari. Kemudian, memperbanyak makan buah selama perjalanan.

"Jika diperlukan, membawa perbekalan multivitamin," jelasnya. Penyakit infeksi saluran pernapasan atas, demam berdarah, dan infeksi pencernaan sangat rentan dialami pemudik selama perjalanan balik ke Jakarta.

Atas kegagalan pemerintah  dalam mengantisipasi kemacetan mudik 2016, menyebabkan masyarakat jadi korbannya. Rasa geram dan marah mereka tuangkan dalam media daring fb, twitter dan instagram.

"Terima kasih Pak Jokowi yang telah memberi hiburan wisata macet luar biasa pada rakyatmu," tulis akun @febry@ana

Sementara akun @nakSholeh menulis; Salam 2 Periode Masuk Liang Lahat!


Editor : Umi Khalsum
Sumber : Indo Pos

No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.