Breaking News
recent

Tipu Muslihat KGB di Era Jokowi

Apa itu Ujug-Ujug?
Ujug-ujug adalah kata lain dari ‘tiba-tiba’, yang berasal dari Bahasa Jawa. Penggunaannya dalam Komunis Gaya Baru (sementara ini) sukses untuk menutupi kejahatan G30-S/PKI dan kegagalan kegagalan Kudeta Dewan Revolusi PKI 1 Oktober 1965.

Apa itu KGB?
KGB singkatan dari Komunis Gaya Baru (dipopulerkan oleh KH Yusuf Hasyim). Sesudah PKI dibubarkan dan terlarang, aktivis Marxis-Leninis-Maois ini tetap gigih melanjutkan kegiatan walaupun ideologi mereka sudah tidak laku dan bangkrut di seluruh dunia. Kegiatan mereka bertujuan untuk membalas dendam.

Bagaimana istilah ujug-ujug itu dipakai?

Taktik yang dengan nyinyir dilakukan KGB ialah menjelang akhir 1965, beberapa bulan lamanya, disebut tiba-tiba umat antikomunis dan TNI membantai anggota PKI di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan tempat lain. Tiba-tiba. Secara aneh penyebab tidak disebut. Secara sengaja penyebab tidak dijelaskan. Apa penyebab yang mereka tutupi itu?

Penyebab pertama adalah Pemberontakan PKI di Madiun 1948. Musso (51 tahun) yang lari ke Moskow 22 tahun sesudah gagal memimpin berontak 1926, pulang ke Tanah Air dan memproklamasikan Republik Sovyet Indonesia di Madiun, 18 September 1948. Yang terjadi bukan hanya “Peristiwa Madiun”, atau “Pemberontakan Madiun”, melainkan “Proklamasi Republik Sovyet Indonesia”. Jadi itu adalah kudeta, perebutan kekuasaan dengan kekerasan senjata.

Di Uni Sovyet, Musso menyaksikan pembantaian oleh Stalin terhadap 40 juta rakyat antikomunis sebangsanya (Courtois: 2000), yang dicontoh Musso di Madiun.

Pejagalan yang dipimpin oleh Musso dimulai pada hari kedua (19 September 1948) sesudah Proklamasi Republik Sovyet di Kota Madiun, dengan penyembelihan kyai, santri, dan pamong praja di Blumbang luar kota. Masaker ini berlanjut ke Soco, Cigrok, Gorang Gareng, Tanjung, Magetan, Takeran, Rejosari (pabrik gula), Bangsri, Dukuh Sedran, Geni Langit Lembah Parang, Nglopang, Dungus, Kresek, Mangkujayan, Batokan, Jeblok, Randu Blatung, Blora, Pati, Wirosari, Donomulyo, Tirtomoyo. Di setiap tempat itu, PKI menjagal 25-100 rakyat antikomunis (Lubang-lubang Pembantaian – Petualangan PKI di Madiun, Tim Jawa Pos: Maksum, Agus Sunyoto, A. Zainuddin, Grafiti, 1990).

Di samping lubang pembantaian yang sengaja digali, tempat penyembelihan itu praktis dilakukan di sumur-sumur tua tak terpakai, yang banyak terdapat di desa-desa itu. Karena repot dan sibuk, di Cigrok korban dikubur hidup-hidup. Di sebuah sumur tua yang tak tertimbun penuh, terdengar suara azan dari dalamnya. Tapi, Kyai Imam Sofwan dari Pesantren Kebonsari tidak tertolong.

Pesantren-pesantren yang menjadi sasaran utama PKI adalah Pesantren Takeran, Burikan, Dagung, Tegalredjo (tertua), Kebonsari, dan Immadul Falah.

Algojo PKI merentangkan tangga membelintang sumur, lalu Bupati Magetan dibaringkan di atasnya. Ketika telentang terikat itu algojo menggergaji badannya sampai putus dua, langsung dijatuhkan ke dalam sumur.

Dubur warga desa di Pati dan Wirosari ditusuk bambu runcing dan mayat mereka ditancapkan berdiri di tengah sawah sehingga mereka kelihatan seperti pengusir burung pemakan padi. Salah seorang di antaranya, wanita, ditusuk (maaf, TI) kemaluannya sampai tembus perut, juga ditancapkan PKI di tengah sawah.

Seorang ibu, Nyonya Sakidi, mendengar suaminya dibantai PKI di Soco. Dia menyusul ke sana, sambil menggendong dua anak, umur satu dan tiga tahun. Dia nekat minta melihat jenazah suaminya. Karena repot melayaninya, PKI sekalian membantai perempuan malang itu, dimasukkan dan dikubur di sumur yang sama, sementara kedua anaknya itu menyaksikan pembunuhan ibunya. Adik Sakidi menyelamatkan kedua keponakannya.

Yel-yel PKI di Madiun dalam gerakan tersebut.

“Pondok bobrok, pondok bobrok!
Langgar bubar, langgar bubar!
Santri mati, santri mati!”


Yang disorakkan dengan penuh kebencian dan ancaman. Cara mengekspresikan kebencian dan ancaman ini khas gaya komunis Leninis-Stalinis, yang dari Moskow diimpor Musso, proklamator Republik Sovyet Indonesia 1948 itu.

Pembantaian ribuan manusia ini (yang belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia, Hindia Belanda, Majapahit) diingat terus oleh umat Islam Indonesia, terutama rakyat Jawa Timur dan Jawa Tengah. Sehingga 17 tahun kemudian, ketika ternyata di belakang G-30S adalah PKI, lebih baik PKI didahului. Akibat aksi, terjadi reaksi.

Penyebab kedua adalah test-case PKI menjelang Gestapu pada tahun 1964-1965 di berbagai tempat di Indonedia. Untuk mengukur kekuatan sebelum merebut kekuasaan, PKI memprovokasi umat Islam dengan berbagai cara. Sesudah 1959 ketika konsep Demokrasi Terpimpin dilaksanakan dengan dalil poros Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), PKI mendapat angin buritan yang sangat menguntungkannya.

Berturut-turut belangsunglah:

pembubaran Masjumi dan PSI, dua partai anti-PKI,
pengangkapan dan penahanan tokoh-tokoh anti-PKI,
pemberedelan koran antikomunis, yaitu Indonesia Raya,Pedoman, Abadi,
teror Bandar Betsy,
teror Kanigoro,
pelarangan buku,
pemburukan nama dan karakter di bidang seni budaya,
pementasan “Matine Gusti Allah” dan “Sunate Malaikat Jibril”,
pembakaran buku,
serangan terhadap umat antikomunis di pers Ibu Kota, oleh Bintang Timur dan Harian Rakyat, untuk menyebut kasus-kasus besar saja, karena tidak seluruh peristiwa dicatat di sini.

Semua aksi ini digunakan PKI untuk mengetes sampai mana umat Islam bereaksi sepanjang masa Demokrasi Terpimpin itu. Ketika aksi PKI sampai kepada pembantaian enam Jenderal pada 30 September 1965, tibalah tensi di puncaknya. Kemudian reaksi terjadi dengan pembalasan dari umat antikomunis yang tak tertahankan lagi. Aksi pra-30-September 1965 disusul dengan reaksi. Reaksi ini dalam bentuk masaker.

Reaksi ini, masaker inilah yang dengan nyinyir diulang-ulang KGB. Aksi tak pernah disebut. Penyebab tak sepatah kata disebut.

Kelompok KGB tetap gigih dengan menyebut taktik ujug-ujug yang sudah usang itu, yaitu tidak ada aksi. Yang ada cuma reaksi. Yang ada secara tiba-tiba adalah masaker, tanpa sebab. Dan untuk itu, KGB secara memelas minta dikasihani ganti rugi rupiah pula. KGB menyangka bahwa publik Indonesia bisa terus-menerus digobloki begitu.

Kedua hal ini, yaitu (1) Masaker Pemberontakan Madiun di 1948 dan (2) teror pra-30-September 1965 adalah penyebab terjadinya reaksi dari antikomunis, yang keras sekali. Dalam ilmu fisika, aksi = reaksi. Tidak ada hal yang berlangsung secara ujug-ujug, kejadian yang tiba-tiba, tanpa sebab, seperti adegan tidak logis dalam film kartun anak-anak kecil yang belum pandai menghapus ingusnya sendiri. Kalau reaksi dituntut untuk diadili, aksi harus lebih dulu diajukan ke meja pengadilan.

KALAU MASAKER TERHADAP PKI DITUNTUT UNTUK DIADILI, MASAKER PEMBERONTAKAN MADIUN 1948 DAN TEROR PRA-30-SEPTEMBER 1965 JUSTRU LEBIH DAHULU HARUS DIADILI.

Yang tidak masuk akal sehat, yang tidak bisa diterima otak waras adalah pemerintah disuruh minta maaf atas peristiwa umat antikomunis 1965. Yang masuk akal sehat dan bisa diterima otak waras adalah KGB minta maaf atas teror/pembantaian oleh PKI di 24 kota dan desa sekitar Madiun, September-Oktober 1948. Dengan ini tersingkaplah kepalsuan taktik ujug-ujug KGB itu.

Oleh: H. Taufiq Ismail

Penulis adalah seorang Sastrawan

Sumber: Harian Republika, 19 Mei 2016

No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.