Booking.com
Breaking News
recent

13 Tahun Vaksin Palsu Beredar, Jokowi: Itu Kejahatan Luar Biasa Sekali

BeritaIndependent.Com | Kasus pemalsuan vaksin palsu di beberapa wilayah seperti Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta menjadi perhatian serius presiden Jokowi. Presiden Joko Widodo mengaku mengikuti secara khusus atas merebaknya kasus pemalsuan vaksin itu.

"Kita tahu misalnya anak-anak sudah dianggap divaksin polio, tapi ternyata belum. Akan seperti apa anak-anak kita nantinya? Ini sangat berbahaya sekali, kejahatan luar biasa sekali," kata Jokowi usai berbuka puasa bersama anak yatim dan disabilitas di Istana Bogor, pada Selasa malam.

Terkait akan penemuan vaksin palsu ini, presiden menginstruksikan menteri terkait untuk segera mengusut masalah tersebut. Presiden juga berharap agar para pelakunya diberi hukuman yang seberat-beratnya.

"Sudah saya perintahkan kepada Menkes dan juga Kapolri untuk sangat serius mengusut masalah vaksin palsu ini. Ini sudah berjalan sangat lama, sudah 13 tahun. Oleh sebab itu harus betul-betul ditelusuri. Berikan hukuman yang seberat-beratnya, baik yang memproduksi, yang mengedarkan, yang memasarkan, semuanya!" katanya.

Sebelumnya, Rita Agustina dan Hidayat Taufiqurahman, suami istri pembuat vaksin palsu dibekuk polisi di rumah mewahnya di Kemang Pratama Regency, Bekasi. Ada juga pasutri distributor vaksin palsu berinisial T dan M ditangkap di Semarang.

Menurut keterangan polisi Rita disebut-sebut lulusan akademi perawat. Ketika ditangkap polisi menemukan barang bukti berupa 36 dus vaksin atau sekitar 800-an ampul.
Dari kejahatan itu, Rita meraup untung besar selama bertahun-tahun. Mereka mengaku melakukan kejahatan ini demi memenuhi kebutuhan ekonomi. Kini, harta pasutri ini mulai dari rumah, tabungan, dan mobil disita polisi.

Selain Rita dan Hidayat, pasutri berinisial T dan M ditangkap di Semarang. Peran mereka sebagai distributor vaksin palsu masih didalami polisi. Dokumen dan ATM milik T dan M disita untuk mengetahui alur transaksi penjualan vaksin palsu. Dengan penangkapan ini, total ada 15 tersangka dalam kasus ini.

Sementara Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Mabes Polri Brigjen Agung Setya Imam Effendi mengatakan vaksin palsu untuk balita dibuat dari tahun 2003.

"Vaksin palsu ini dibuat dengan cara menyuntikkan cairan infus dicampur dengan vaksin tetanus. Hasilnya yakni vaksin wajib palsu untuk hepatitis, BCG, dan campak. Harga vaksin palsu dijual sekitar Rp 200 ribu-400 ribu lebih murah dibanding vaksin asli," katanya.

Menurut Agung, sepak terjang pembuat vaksin palsu tidak tercium otoritas yang berwenang selama 13 tahun karena impak dari vaksin yang tidak nampak.

Oleh karena itu, polisi akan menjerat para tersangka dengan UU Kesehatan dengan ancamannya 10 tahun penjara. Tak hanya itu saja, keduanya juga dijerat UU Pencucian uang. (Umi/R)

No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.