Booking.com
Breaking News
recent

Ternyata Penyerapan Anggaran DKI Jakarta Terendah dan Terburuk di Indonesia

BeritaIndependent.Com | Ternyata Penyerapan Anggaran DKI Jakarta tergolong Terendah dan Terburuk di Indonesia. Berdasarkan data Dirjen Bina Keuangan Daerah, lima daerah dengan tingkat penyerapan anggaran tertinggi se Indonesia adalah Gorontalo (63,1 persen), Maluku Utara (63 persen), Kalimantan Tengah (62,9 persen), Nusa Tenggara Timur (57,6 persen), dan Sulawesi Tenggara (56,9 persen).

Sementara itu, lima daerah dengan penyerapan anggaran terburuk adalah Pemprov DKI (19,39 persen), Papua (21,74 persen), Kalimantan Utara (23,7 persen), Papua Barat (28,86 persen), dan Riau (29,8 persen). Pada bulan lalu, Pemprov DKI juga menjadi daerah terburuk dalam hal penyerapan anggaran.

“Kita akui penyerapan anggaran rendah,” kata Gubernur Ahok, di Hotel Mercure, Jakarta Utara.

Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama mengakui bahwa serapan anggaran Pemerintah Provinsi DKI terendah di seluruh Indonesia.

Terkait hal ini Ahok berkilah karena Provinsi DKI Jakarta telah diperlakukan tidak sama dengan provinsi lain mengenai anggaran ini. Bahkan tahun lalu Ahok mengeluh, Kemendagri terkesan memperlambat proses pengesahan APBD perubahan DKI Jakarta.

Padahal,  dirinya ingin memperbaiki besar anggaran dalam APBD 2015 di dalam perubahan nanti. Sebab, kata Ahok, APBD 2015 memang dipenuhi dengan banyak mark up di berbagai satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

Dia ingin memperbaiki mark up anggaran tersebut dalam APBD perubahan sehingga penyerapan juga bisa lebih tinggi.

Menurut Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA menyatakan, dengan penyerapan Anggaran DKI Jakarta yang tergolong terendah dan terburuk di Indonesia itu akan menjadi kelemahan yang kembali diwarisi Ahok jika ia terpilih sebagai gubernur melalui jalur independen.

Denny menilai, DKI punya kemewahan dengan APBD 2015 yang tertinggi sebesar Rp 69,28 triliun. Sayangnya, menurut Kemendagri, pada Oktober 2015, penyerapan anggaran DKI tergolong terendah dan terburuk di seluruh Indonesia, di angka 19,39 persen.

"Dengan serapan rendah itu, puluhan triliun dana yang tersedia belum digunakan. Dana Podomoro yang membantu DKI ratusan miliar itu pun tak sebanding dengan dana puluhan triliun yang sah, yang belum terserap," katanya. (R/Dea)

No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.
loading...
loading...