Booking.com
Breaking News
recent

Khawatir Nahdliyin Dirayu Kelompok Radikal, Khofifah Minta Kiai NU Turun Gunung

BeritaIndependent.Com | Di tengah meluapnya arus global paham-paham transnasional yang berkembang, sudah seyogyanya para kiai NU untuk turun gunung. Pasalnya, sudah ada indikator warga NU dikapling komunitas lain, semisal kelompok radikal.

Pernyataan tegas itu disampaikan Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dalam acara tatap muka dengan santri Pesantren Nuris Islam (Nuris), Antirogo, Kabupaten Jember, pada Sabtu (28/5).

Khofifah mengingatkan pentingnya berdakwah ke luar. Tetapi menurutnya, berdakwah ke dalam jauh lebih penting. Mendampingi warga NU sangat penting di tengah meluapnya arus global paham-paham transnasional.

Menurut Khofifah, masih banyak warga NU yang ngambang, bahkan tidak tahu seluk-beluk ajaran ahlussunah wal jama'ah (Aswaja).

"Dan mereka itu rawan dikapling komunitas lain, semisal kelompok radikal," ungkapnya.

Khofifah mengaku khawatir dengan kondisi itu. Sebab, nyatanya tidak sedikit warga NU, bahkan tokoh NU yang terbuai rayuan kelompok lain, dan akhirnya mereka menjadi pengurus di komunitas tersebut.

Ia lalu bercerita tentang salah seorang pengurus Muslimat NU Endah Nizar yang diundang oleh Ketua IPPNU Mojokerto untuk mengisi pengajian. Karena yang mengundang adalah IPPNU, maka tentu yang terbayang di benak Endah bahwa audiennnya adalah muslimat NU. Tapi tenyata yang hadir adalah muslimat kelompok lain.

Menurut Khofifah, kasus tersebut harus menjadi pelajaran bagi warga NU. Bahwa NU besar adalah sebuah kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Tapi ngopeni umat harus terus menerus dilakukan agar warga NU tak mudah terjebak oleh bujuk rayu komunitas lain.

"Ini pekerjaan rumah para kiai, pekerjaan rumah tokoh NU, pekerjaan rumah pengasuh pesantren, dan pekerjaan rumah kita semua," jelasnya.

Khofifah menambahkan, Aswaja adalah rohnya NU. Mengenal NU, otomatis harus mengenal Aswaja. Ia sendiri mengaku terus belajar dan memperdalam Aswaja.

Saat KH Muchit Muzadi masih hidup, ia mengaku sering belajar Aswaja kepada Kiai Muchit lewat telepon. "Kalau saya ngaji kepadanya, itu sampai setengah jam by phone. Sering. Saya juga belajar Aswaja kepada Kiai Muhyiddin (pengasuh Pesantren Nuris), tapi belum selesai," ungkapnya.

Editor : Umi Khalsum
Sumber : NU Online





No comments:

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.

Powered by Blogger.
loading...
loading...